Percayakah kamu kalau temuan terbesar di abad ke-20
adalah mie instan? Masa sih? Yap, betul sekali. Mie instan sukses
menggeser temuan lain yaitu karaoke di urutan kedua dan CD di urutan
ketiga. Sebenarnya cukup masuk akal juga sih. Mie instan membawa
perubahan besar dalam peradaban manusia. Terutama untuk orang kota yang
serba sibuk alias tidak punya banyak waktu.
Mie instan ditemukan tahun 1958 oleh orang Jepang bernama Momofuku Ando.
Dia lalu mendirikan perusahaan Nissin, perusahaan mie instan pertama di
dunia. Produk pertamanya adalah Chicken Ramen (mie Jepang rasa ayam).
Belakangan Nissin membuat produk baru yaitu mie dalam gelas bermerk Cup
Noodle. Masih mie instan, tapi ditaruh dalam wadah dari styrofoam.
Nissin kemudian berinovasi dengan sayuran kering sebagai pelengkap mie
yang penyajiannya cukup dituang air panas.
Yang jelas, sejak saat itu orang di seluruh dunia seakan ketagihan makan
mie instan. Di tiap rumah tangga dipastikan ada yang namanya mie
instan. Orang bepergian ke luar negeripun akan membawa mie instan
sebagai “senjata” kalau makanan lokal tidak cocok dengan lidah. Saat ini
Indonesia adalah negara produsen mie instan terbesar di dunia. Jauh
mengungguli Jepang dan Tiongkok. Bagi orang Indonesia mie instan adalah
makanan favorit. Mudah, murah, cepat dan enak. Hmmm……
Bahaya Nggak Sih Makan Mie Instan?

Menurut ilmu kesehatan bagaimanapun juga mie instan tidak bisa
menggantikan makanan lengkap (wholesome food). Mie instan tidak memenuhi
kebutuhan gizi seimbang bagi tubuh. Lho, khan ada kandungan
karbohidratnya? Betul, tapi kandungan vitamin, mineral dan protein
sangat sedikit. Kalau lihat iklan mie instan di televisi pasti mienya
tidak disajikan begitu saja. Ada bahan pelengkap seperti telur, sawi,
tomat dll. Apa ini Cuma sekedar menarik perhatian? Tentu saja tidak.
Kabar buruknya, mie instan tidak cuma minim gizi, lho. Kandungan Natrium
yang berasal dari garam (NaCl) memang membuat rasanya enak, tapi buruk
untuk penderita hipertensi dan maag. Bagi penderita maag efek Natrium
adalah memicu asam lambung menjadi lebih tinggi. Akibatnya adalah
pengikisan dinding lambung dan menyebabkan rasa perih. Bagi penderita
hipertensi Natrium akan meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan
ketidakseimbangan antara Natrium dan Kalium.
Nasi susunan karbohidratnya lebih kompleks sehingga memberi efek kenyang
lebih lama. Mie instan adalah sebaliknya, dimana susunan karbohidrat
yang lebih sederhana hingga mudah diserap dan membuat lebih cepat lapar.
Jelas ini tidak bagus bagi penderita obesitas atau yang sedang
menjalani terapi penurunan berat badan.
Tips Aman Mengolah Mie Instan
Kalau memang ada makanan lain sebaiknya tidak perlu mengolah mie instan.
Makanan instan apapun biasanya mengandung pengawet. Nah, bicara
mengolah mie instan ada beberapa trik yang mesti diperhatikan.
- Paling cepat mengkonsumsi mie instan adalah empat hari sekali.
Tujuannya memberi kesempatan tubuh mengeluarkan zat berbahaya dan kimia.
- Tambah mie dengan bahan lain untuk melengkapi asupan gizi.
- Bagi penderita gangguan lambung, pastikan mengisi perut dengan
makanan lain (misalnya buah) sebelum makan mie. Jangan biarkan perut
kosong langsung menyantap mie instan.
- Ikuti petunjuk penyajian. Kalau di bungkus dibutuhkan dua gelas air, maka lakukanlah.
- Masukkan bumbu di mangkok terpisah dan jangan di air rebusan mie
yang sedang mendidih. Bumbu mie yang mengandung Monosodium Glutamate
akan membentuk senyawa baru berupa toksin yang berbahaya bagi tubuh.
- Hindari menuang air panas pada Styrofoam karena dapat menimbulkan senyawa kimia baru yang dapat memicu kanker.